You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Dadapan
Dadapan

Kec. Sedan, Kab. Rembang, Provinsi Jawa Tengah

SELAMAT DATANG DI JENDELA INFORMASI DESA DADAPAN KECAMATAN SEDAN .

Merawat Kebinekaan, Menguatkan Persaudaraan: Kajian Kerukunan Umat Beragama

Basyar 24 Agustus 2025 Dibaca 343 Kali
Merawat Kebinekaan, Menguatkan Persaudaraan: Kajian Kerukunan Umat Beragama

Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sukses mensosialisasikan yang telah diusung oleh pihak Kementerian Agama Republik Indonesia dengan tema "Pembangunan Kerukunan Umat Beragama" bertujuan meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan, khususnya pada seluruh warga Desa Dadapan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan, setiap hari Selasa pada waktu ba'da sholat Dzuhur di Musholla Darul Hikmah. Dirangkai dengan lantunan pembacaan sholawat, tahlil bersama dan kajian terhadap ibu-ibu (muslimatan) yang dipimpin langsung oleh Moh. Alfarizi Putra sebagai mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada pertemuan pertama, menjelaskan kajian mengenai Mu'amalah Ijtima'iyyah dalam konteks Ukhuwah Islamiyyah, Ukhuwah Basyariyah, dan Ukhuwah Wathaniyah. Hal ini bertujuan akan pentingnya memahami dan menghargai perbedaan, baik dalam aspek suku, ras, golongan dan keyakinan. Karena jika persaudaraan (Ukhuwah) tidak didasari oleh keimanan dan ketakwaan, tentunya akan menimbulkan keserakahan dan pertikaian di mana-mana. Selain itu, Ukhuwah juga harus dilandasi dengan kesadaran bahwa seluruh umat manusia merupakan makhluk ciptaan Allah Swt, dari keturunan Nabi Adam a.s dan Ibu Siti Hawa.

Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.

Dalam firman tersebut, mengajarkan kepada kita sebagai hamba dari mana asalnya dan latar belakangnya, bagaimana sebagai hamba untuk saling mengenal. Karena dengan mengenal, manusia akan saling memahami. Ketika saling memahami dan menghargai, manusia secara sendirinya akan saling tolong menolong dan saling menyempurnakan kelebihan dan kekurangan satu sama lainnya. Itulah pentingnya persaudaraan (ukhuwah islamiyyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyyah) tanpa melihat dari latar belakang, dengan cara saling mengenal, memahami, menghargai, tolong menolong, dan saling melengkapi. Tentunya hidup di dunia akan menjadi tenang, tentram, damai, sejahtera, dan selalu bahagia.

Pertemuan kedua, diisi kajian tentang “Jadikan Al-Qur’an Sebagai Obat Kesedihan”. Tema ini mengkaji dalam konteks bagaimana menghadapi ujian dan cobaan dalam hubungan keluarga, khususnya parenting pada anak. Seorang anak merupakan titipan dari Allah Swt sebagai hiasan dunia, namun sebaik-baik hiasan ialah memiliki anak yang sholeh dan sholehah.

Empat kunci jika ingin dikaruniai anak yang sholeh/sholehah, pertama, sholehkan dirimu sebelum mensholehkan anak-anakmu. Terkadang orang tua ingin mempunyai anak yang sholeh/sholehah, tetapi dirinya masih belum mampu menjadi orang tua yang baik dan terbaik bagi keturunannya. Kedua, fasilitasi pendidikan yang baik untuk anaknya, baik ruang keluarga maupun di tempat sekolah. Ketiga, jadikan rumah tempat ternyamanq, karena rumah bukan sekedar bangunan tetapi tempat berteduh dan bertumbuh bagi anak. Keempat, kunci dari kunci segalanya adalah doakan selalu yang terbaik kepada anak-anaknya, karena doa orang tua khusunya doa ibu itu sudah setara dengan doanya seperti nabi Muhammad saw.

Pertemuan ketiga, berbicara soal bagaimana “Menjadikan Hidup Sebagai Jalan Kebahagian, Bukan Penderitaan”. Pastinya dalam kehidupan pasti akan penuh dengan ujian dan cobaan. Dan kita sebagai hamba tidak bisa lari dari pahitnya kehidupan, lelahnya cobaan, dan beratnya ujian. Namun solusinya hanya bagaiamana belajar menerima keadaan dengan apa yang sudah ditakdirkan, karena segala sesuatu dengan apa yang telah kita rencanakan, usahakan, impikan dan cita-citakan, jika pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan dan kenyataan. Maka kata syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari di dalam kitab hikamnya:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

Tenangkan hatimu (bersabarlah dan bertawakkallah dirimu) dari mengatur segala urusanmu, sebab urusan yang telah diatur oleh selain dirimu (yakni Allah) maka engkau tidak perlu ikut campur mengurusnya.

Terpenting di dalam kehidupan, jangan sampai hancur lebur karena manusia. jangan patah dan terluka karena manusia. Seperti direndahkan, dibenci, dicaci maki, dibully, didholimi bahkan dikhianati.  Kenapa? Karena kita sebagai manusia direndahkan tidak mungkin menjadi sampah, dipuji tidak mungkin menjadi rembulan. Maka jangan risaukan omongan seseorang selagi kita sebagai hamba berada di jalan yang benar. Oleh karena itu, jangan berharap kepada manusia, karena berharap kepada manusia merupakan patah hati yang dsengaja. Tapi berharaplah kepada Allah Swt yang tidak pernah mengecewakan hambanya. Maka dari itu, Mari kita pilih dan pulih bersama Allah. Sembah dan sembuh di jalan Allah Swt.

Wallahu A’lam Bishawab.

Pewarta: Moh. Alfarizi Putra – Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kabar Rembang