You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Dadapan
Dadapan

Kec. Sedan, Kab. Rembang, Provinsi Jawa Tengah

SELAMAT DATANG DI JENDELA INFORMASI DESA DADAPAN KECAMATAN SEDAN .

Suara Alam dan Panggilan Adzan: Wajah Kehidupan Desa Dadapan

Basyar 27 Juli 2025 Dibaca 302 Kali
Suara Alam dan Panggilan Adzan: Wajah Kehidupan Desa Dadapan

Desa Dadapan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, merupakan pedesaan yang mempraktikkan “Slow Living” sebagai pola kehidupan sehari-hari, di mana ritme agraris dan spiritual berjalan selaras. Setiap pagi, suara kicauan burung dan aroma tanah segar dari ladang yang baru digarap menjadi penanda dimulainya hari, menegaskan keterikatan masyarakat pada alam dan siklus musiman. Setiap sore selalu menikmati indahnya senja beserta bunyi lantunan ayat tilawah Al-Qur’an yang selalu mengingatkan kenangan masa kecil yang tidak terlupakan.

Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, yang melaksanakan aktivitas bercocok tanam secara terstruktur, disiplin, dan tidak terburu-buru yang menunjukkan bahwa kecepatan bukan tolak ukur keberhasilan, melainkan ketepatan waktu dan kualitas hasil kerja. Namun ada beberapa sumber mata pencahariannya dari peternak, pedagang, dan pengrajin seperti anyaman dan lain sebagainya.

Selain nilai-nilai kerja, dimensi religiusitas sangat menonjol seperti panggilan adzan menghentikan segala aktivitas, mengundang semua lapisan usia dari anak-anak hingga lansia untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid/musholla terdekat. Tradisi setelah sholat, berupa berjabat tangan disertai salam dan tatap muka langsung, meneguhkan ikatan sosial dan budaya silaturahmi sebagai pilar kohesi sosial.

Ketika berbicara soal praktik keagamaan di Desa Dadapan sudah tidak diragukan kembali dengan nilai-nilai keislaman, mulai dari sistem pembelajaran lewat tradisional atau kenduren yang dibaca bersama-sama dan mengikuti pendoa nenek moyang sebelumnya sehingga terjadi akulturasi budaya yang sama, tidak ada saingan dalam mengajar atau mendidik anak-anak TPQ dan lain sebagainya. Adapun kegiatan setiap mingguan bergilir dari rumah ke rumah yaitu sholawat nariyah dan burdahan, setiap hari selasa kegiatan kajian muslimatan ibu-ibu di musholla. Bulanan, kegiatan keagamaan dilakukan setiap Jumat Legi dan setiap malam tanggal 11 Hijriyah pembacaan manakib karya Syekh Abdul Qodir al-Jailani

Dan kajian muslimat Fatayat NU merupakan kegiatan rutinan yang dilaksanakan setiap 36 hari sekali secara bergilir di berbagai titik lokasi kediaman warga. Kegiatan ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antar anggota, khususnya para ibu dari kalangan Nahdliyyin di wilayah setempat. Acara ini dirangkai mulai dengan pembacaan tahlil, ditujukan untuk mendoakan para warga yang telah wafat. Sambutan dari Ketua Ranting Fatayat NU, yaitu Ibu Kastini yang mengapresiasi semangat kebersamaan para anggota, kemudian diselingi dengan lantunan sholawat bersama. Dan Mau’idzah Hasanah sebagai inti acara disampaikan oleh Kiai atau Ustaz yang mengambil rujukan dari kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali sebagai bahan kajian. 

Kegiatan rutinan Fatayat NU ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi menjadi ruang spiritual dan sosial yang memperkuat jalinan ukhuwah islamiyah serta membentuk karakter perempuan muslimah yang tangguh dan penuh kasih. Dan memang kegiatan praktik keagamaan Desa Dadapan rata-rata didominasi oleh ibu-ibu, meskipun ada sebagian rutinan setiap malam senin legi dan malam senin pahing khusus bapak-bapak. Kegiatannya pun cukup sederhana, dimulai pembacaan yasin - tahlil dan kultum sebagai pengingat serta nasehat pedoman hidup dunia dan akhirat kelak.

Keramahan penduduk pun selalu diwujudkan melalui sapaan dalam bahasa Jawa seperti “Tiyang pundhi?” dan “Saking pundhi nduk?”, bukan sekadar formalitas, melainkan ekspresi autentik warisan tradisi yang menghargai kehadiran orang lain sebagai saudara. Mekanisme pertukaran tutur kata sederhana ini mencerminkan nilai toleransi, solidaritas, dan kebersamaan antargenerasi.

Bahkan setiap dusun di Desa Dadapan memiliki seni budaya khas masing-masing yang begitu beragam, misalnya pada dusun Krajan, Sangrahan, Ngemplak dikenal dengan sholawatan jeduran, Reog merupakan khas tarian dusun Siwalan Sukun, dan dusun Macan Ireng juga dikenal dengan seni pencak silatnya.

Dengan demikian, Desa Dadapan bukan hanya tentang pola hidup tenang dan teratur, tetapi juga contoh nyata bagaimana praktik budaya lokal dan tradisi keagamaan membentuk identitas sosial yang inklusif dan berkelanjutan.

Penulis: Luthfiah Nailu Rohmah & Moh. Alfarizi Putra - Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kabar Rembang